Feeds:
Pos
Komentar

SEKAPUR TULIS

 Berawal dari keinginan memiliki ruang khusus untuk memajang koleksi sepeda saya yang hanya sedikit. Agar bisa dibanggakan, dilihat, dan dinikmati orang lain. Namun saya sadar sudah banyak situs-situs atau blog yang sudah solit dan lengkap membahas tentang sepeda yang satu ini, Onthel Bikers ingin ikut hadir menyemarakkan blog-blog yang sudah ada, lebih kepada pemakainya, cerita, suka-duka, serta pernak-pernik lainnya sebagai pengguna sepeda onthel hadir disini. Maka saya buatlah :

ONTHEL BIKERS

ontel-mania2

Berbagi pengalamanmu di sini, para pengguna

sepeda onthel dapat mengirimkannya ke alamat email ini

agus_kadarwira@yahoo.com

Kotanya Onthel

Liburan hari itu tidak direncananakan sebelumnya istilah kata mendadakan, dengan perbekalan seadanya kami sekeluarga berangkat.

Walaupun hanya sebagai kota singgahan kota Solo dan Jogya memiliki kesan tersendiri di hati saya.

Ya… maklum saja sudah sekian lama saya tidak kesini. Suasana nyaman asri serta cir-ciri khas kota ini(delman,onthel,batik, dll) yang membuat saya selalu ingin tetap terus ke sini. Berjalan menyelusuri kota solo dan jogya satu harian tidak cukup rasanya tapi apa di kata, saya harus pulang kembali ke Jakarta dengan hingar bingar dan rutinitas. Sayup-sayup terdengar lagu ”Jogjakarta nya Kla Project” “izinkanlah aku…..untuk selalu pulang lagi…..bila hati ini mulai sepi tanpa terobati………..”

Kapan saya bisa tinggal di dua kota ini ?????????

E-mail dari pengguna onthel

Hallo Oom Agus
ada pertanyaan, mungkin bisa di bantu oleh Oom Agus. Saya penyuka sepeda, saat ini saya punya sepeda phoenix saya beli baru tahun 2004 an, total jarak pemakain saya tidak lebih dari 20 km, karena kontur jalan di bogor mendaki, karenanya saya mempergunakan sepeda lipat untuk melibas tanjakan.
Saya ingin Phoenix saya agar mampu melibas tanjakan (tanpa berdiri atau turun dari sepeda) caranya:merubah frwheel standard mempergunakan freewheel 6-7 susun tanpa merubah crank.
Apakah pernah hal ini dilakukan dan kalau pernah hal-hal apa yang harus diperhatikan.

Terima kasih

(Ronald Iskandar)

Hallo juga mas ronald, senang rasanya berbagi pengalaman, pada umumnya seorang penyuka sepeda jenis onthel akan mempertahankan keorisinilannya, tapi saya menyadari kesulitan anda, hingga saat ini saya belum melihatnya (mungkin nantinya anda yang pertama), biasanya untuk sepeda ini memakai tromol porsneling seperti sturmey dan itu dianggap sudah cukup bagi pemakainya. Tetapi kalau anda mau mencobanya mungkin harus ada perubahan besar, anda harus mengatur tempat pengaturan giginya pada stang nya(ciri khas onthel pada stangnya yang melengkung), untuk crank saya rasa harus dirubah menyesuaikan freewheel nya .
oke hanya itu yang bisa saya berikan, Semoga saudara ronald puas.

terima kasih atas e-mailnya
“Ada yang bisa bantu….lagi”

stu2

tromol porsneling

 

 

 

 

 

 

 

VELODROME

Kamis itu kebetulan hari libur, aku bersama anak bersepeda. Tempat yang di tuju tidak begitu jauh, masih disekitar rawamangun velodrome/balap sepeda terletak disebrang arion plaza atau di samping kampus UNJ. Masih terlihat masa-masa kejayaan tempo dulu, sayang sebagian tempat sudah ada yang terlihat rusak dimakan usia.Tidak hanya penduduk sekitar yang menggunakan fasilitas ini ada yang datang dari jauh selain untuk berolah raga,,,,tempat ini menjadi objek hiburan murah meriah dengan pasar kagetnya dan jajanan khas kaki limanya. Untuk sesaat saya nikmati suasana disana sambil menghilangkan suntuk dan penat oleh hingar-bingar rutinitas sehari-hari……..

velo2velovel1

isi dompetnyaPagi ini saya seperti biasa selalu menyempatkan diri untuk bersepeda santai, tujuan yang dituju pacuan kuda pulomas. Seperti biasa jika pada hari minggu tempat itu ramai sekali dikunjungi orang-orang untuk berolahraga dan khas pasar kagetnya. Sudah dari semalam saya mempersiapkan sepeda, saya cek kelengkapannya ( Sip..OK semua).

Pagi nya sekitar jam ½ tujuhan saya berangkat dari rawamangun menuju pacuan kuda, cuaca hari itu agak mendung. Jalan-jalan saya lalui, goes,,,,,goes,,,,,goes……aduh..!!??? lumayan lah…untuk cari keringat. Setibanya saya disana, saya beristirahat. Saya cari tukang minuman…..…ALAMAK…………………..ternyata dompet saya tidak ada……ADUH ……hilang dimana…. nih…saya lihat sekeliling …dimana..ya…akhirnya saya tidak jadi membeli minuman, buru-buru saya bergegas.. WADUH…..GAWAT-GAWAT…mana surat-surat ada disana…….

Akhirnya saya terusuli jalan-jalan yang tadi saya lalui, sesekali saya berhenti,,,,liat-liat kali aja ketemu,,,,hingga hampir sampai dirumah, tidak ada tanda-tanda ketemu. APES…APES.

Setibanya dirumah………..OALAAAAAAAAA….ternyata dompetku ada diatas lemari saya, karena pagi itu ketika ganti celana saya….lupa memasukkannya kembali. DASARRRRRRRRR PIKUN-PIKUN.

“paling enggak, saya masih bersyukur ternyata gak ilang hanya kelupaan”.

Dibuang Sayang

Waktu liburan minggu lalu istriku berbenah, beres-beres rumah. Ternyata banyak sekali barang /perabotan yang sudah tidak terpakai yang begitu banyak menyita ruang rumah yang sempit menjadi lebih sempit lagi. Diantara barang-barang tersebut terdapat sebuah tas bekas laptop yang sudah tidak terpakai karena sudah rusak. Dengan bantuan teman saya ( pak Amad “thanks atas bantuannya”) akhirnya dirubah menjadi tas untuk sepeda onthel ku. Walaupun tidak sebagus seperti yang buatan pabrikan paling tidak tas ini menjadi bermanfaat kembali.
“kira-kira ada lagi gak yang bisa dimanfaatkan”

tas onthel made in sendiri




Legenda Kota Tua

Jalan – jalan yang biasa padat merayap, sore itu agak lengang maklum abis turun hujan.Siang itu aku bersama istri dan anak sedang menghabiskan weekend bersama. Maklumlah kami sebagai orang tua harus bekerja berdua, kalau hanya mengandalkan gaji saya seorang kayaknya gak cukup, apalagi anak saya sudah mulai sekolah. Pilihan untuk liburan ini saya putuskan ke daerah kota tua dekat stasiun beos.

Dengan naik angkot ke cikini dilanjutkan naik kereta jurusan stasiun kota akhirnya sampai juga kami disana. Hemat meriah, sambil jalan-jalan kemuseum Fatahillah akhirnya kami istirahat di taman kota. Sudah dua kali kami bersama keluarga kesini. Kenangan bersama istri ditempat ini sangat terasa sekali, maklumlah karena waktu itu kami masih kuliah bersama dan kampus kami bersebrangan dengan museum ini.

Dengan menyewa seharga RP 20.000,-/jam anda sudah dapat menikmati sepeda ontel keliling sekitar kota tua, atau ingin mencoba jajanan khas kaki limanya. Dimuseum juga menjual souvenir-souvenir untuk oleh-oleh pulang.

Ketika menjelang kami sore kami putuskan untuk pulang, maklumlah kehidupan malam disana mulai terlihat,,,,,,,,,,,ada anak-anak gak baik.

Pak…..pak………sepedanya pulangin dulu………tukangnya nyariin….tuh.

sewa onthel

sewa onthel

My spirit

My spirit

Halaman Museum Fatahillah

Halaman Museum Fatahillah

Terowongan BEOS

Terowongan BEOS

Ulangan Posil Onthel

Tulisan ini sudah pernah saya tulis di versi blogspotnya. Ketika saya berkunjung ke tempat om saya. Saya begitu terkejut, sangat sayang sekali sepeda ini di sia-siakan. Ketika saya tanya katanya pernah mau dijual, tetapi takut kualat, ya saya bilang kalau begitu harus di rawat dong…. Kalau boleh biar saya yang merawatnya (emang maunya ….ha..ha..ha…) tapi hingga sekarang masih belum saya peroleh, kata om tar kalau sudah dapat perintah wewenangnya,,,,,,sabar,,,,,sabar,,,,,,,,sabar.

( saya tidak tahu tipe apa ini sepeda )

Berikut gambarnya  :

posil-nsu2

posilnsu1

stang-nsu

ada tulisan SD

TGL : 1 /10/2008

KETERANGAN : Konon katanya ini sepeda barang wasiat turun temurun, dari bapaknya kakek (usia kakek saat ini sekitar 70 thn ) dari om istri saya. Sayang sudah tidak terawat hanya digantung di gudang penggilingan padi.